Komunikasi Yang Memotivasi : Nolifikasi

Standard

Dalam sebuah perjalanan antar propinsi, saya teringat akan hukum petani, konsep ini dikemukakan oleh Shiv Kera, motivator hebat yang menginspirasi begitu banyak orang, namun saya sendiri pertama kali menikmati ‘Law of Farmer’ dari salah satu sesi materi Om James Gwee, sang Indonesia’s Favourite Trainer. Intensi fokus saya mengarah pada salah satu proses yang dialami petani, ketika sudah terlanjur menanam sebuah bibit, sudah kita telateni, sudah kita rawat dengan seksama dan penuh dengan atensi, namun ternyata menunjukkan gejala-gejala tidak sehat, alias berpenyakit, maka pilihan untuk terus merawat dan menyemainya ternyata tidak disarankan. Air yang dialirkan, pupuk yang ditaburkan kemudian, proses perawatan dan pemantauan, akan menelan pikiran, waktu, dan biaya yang jelas dan bisa diperkirakan, namun dengan prediksi hasil yang dipastikan tidak menemui harapan.

Nah, apa kemudian yang disarankan? Petani harus mengambil keputusan! Lakukan tindakan! Ternyata tanaman yang diindikasi berpenyakit dan sedang dalam masa pertumbuhan, harus dicabut dan dibersihkan. Eliminasi tanaman dan selamatkan lahan, untuk mencegah nominal yang lebih besar sebagai resiko kita akan kerugian. Titik inilah yang saya beri istilah sendiri : nolifikasi, dikembalikan ke nol lagi. Memang dalam posisi ini, kita harus mengedepankan objektifitas dan menyiapkan mental untuk rugi, sebagai exit-plan pencegahan kerugian yang lebih besar.

Tidak usah disesali dan diratapi, yang lalu biarlah berlalu. Energi tidak diperoleh dari mengigau atas masa lampau, namun energi dirangkai dari optimisme atas masa depan. Istirahat sejenak, ambil nafas panjang dan kendurkan sejenak sekujur otot, untuk menghimpun kembali tenaga dalam mengolah tanah, demi bibit baru yang lebih baik, lebih subur, lebih menghasilkan dan lebih memberikan keluasan manfaat.

Tidak ada yang sia-sia. Dari nol, kembali ke nol. Jangan kecil hati, karena ini nol yang sudah pernah bergerak lincah dan terampil, nol yang bertindak dan melakukan, nol yang sudah memiliki bekal mental dan energi positif yang sudah didepositokan.

Mungkin dalam hidup kita menemui kondisi yang sejenis dengan sang petani, kita sudah tahu caranya. Nolifikasi bukanlah akhir dunia, hanya sebuah proses menutup buku yang sudah harus ditamatkan, untuk memulai tulisan di buku baru dengan optimisme dan antusiasme yang tidak berubah, bahkan semakin bertambah.

Ditulis di Tuban, Jawa Timur.

Faizal Alfa MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s