Komunikasi Yang Memotivasi : Sabar Yang Elegan

Standard

“Jadi orang itu yang sabar…”

“Orang sabar disayang Tuhan..”

Sering dengar pastinya, betapa sebuah kesabaran itu adalah suatu sikap yang mulia, orang yang sabar dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang yang tidak sabar. Meskipun persepsi yang berkembang saat ini, dengan tekanan hidup yang tinggi, budaya perkotaan dan modernitas yang memicu persaingan keras, sabar dianggap barang langka, bahkan mungkin jika sabar adalah sejenis spesies, maka termasuk spesies endemik yang statusnya sudah di ambang kepunahan.

“Sabar ya ada batasnya!”

Ini yang menarik, kita sering mendengar statemen tersebut, yang sebenarnya jika ditelaah lebih lanjut, justru ambigu, karena ternyata, sabar itu tidak ada batasnya. Lho, kalau begitu, kalau ada batasnya apa dong? Kalau masih berbatas, maka termasuk tidak sabar, simpel khan?

Sabar sendiri prakteknya multipersepsi, karena sebagai sebuah realitas, sabar dipersepsi dalam bentuk yang berbeda-beda. Saya memilih mempersepsi sabar dalam perspektif yang non-konvensional. Saya tidak setuju kalau sabar diidentikkan dengan ngalah, nrimo(jawa), atau diam dan pasif tanpa upaya. Saya sendiri mempersepsi sabar sebagai sebuah upaya aktif, lebih tepatnya persitensi. Sabar bukanlah imaji seperti tokoh protagonis dalam kisah-kisah azab Ilahi, yang alim namun penuh derita, yang berperangai halus namun hidupnya menerus didera nestapa. Sabar itu seperti Tom Hanks dalam Cast Away, seperti Will Smith dalam Pursuit of Happyness, seperti Bruce Willis dalam Die Hard, atau Keanu Reeves dalam Speed. Sabar itu aktif, sabar itu agresif, sabar itu konsisten untuk tetap dan terus melakukan wala mengalami kendala atau belum mendapat hasil. Sabar perlu dimaknai dalam bingkai yang berbeda. Terus melakukan meski diremehkan, terus berjuang meski dicaci, terus berikhtiar meski dihina, dipersulit, atau dizalimi dengan berbagai cara.

Sabar bukanlah kelemahan dan kondisi menyerah tanpa upaya, jadilah pribadi yang sabar dengan elegan, sabar yang layak mendapat apresiasi dan acungan jempol, sabar yang memunculkan rasa salut dan respek. Sukses bukan lagi sebuah kemungkinan, namun sudah menjadi kepastian, tinggal menunggu waktu, terus lakukan, jangan lupa dengan sabar.

Faizal SurpluS MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s