Komunikasi Yang Memotivasi : Ragu-Ragu, Lebih Baik Kembali

Standard

Saat memasuki kawasan militer, ada banyak jargon yang biasanya dipajang-dicantumkan. Saya pun menemui hal serupa saat diberi kepercayaan melatih karyawan dari salah satu perusahaan migas plat merah dalam diklat yang diselenggarakan di Kota Malang. Setelah melapor di Pos Jaga, seketika bangunan berdinding hijau menyambut, dengan sebuah tulisan yang khas : Disiplin itu Indah, bersanding dengan tulisan lain yang terbaca jelas : Ragu-Ragu, Lebih Baik Kembali! Sungguh kalimat singkat yang senantiasa saya kenang. Sederhana dan mengena, pendek dan berefek, ringkas dan jelas.

Ragu-ragu, lebih baik kembali! Karena keraguan pangkal ketidakjelasan. Bayangkan kita sedang menonton sebuah pertandingan sepak bola, big-match, babak final, mempertemukan dua tim yang sama-sama handal dan berambisi meraih piala, menjadi tidak seru dan berkurang kenikmatan menontonnya jika pertandingan dipimpin wasit yang tidak tegas, serba ragu-ragu. Itu baru pertandingan sepakbola, apalagi kehidupan. Saya sendiri dilahirkan di sebuah kondisi yang tegas, tanpa kompromi! Orang tua memang tidak berlatar belakang militer, yang notabene memang dikondisikan dalam mode ketegasan, namun kehidupan orang tua yang keras di jalanan, tidak memberi ruang untuk sebuah keraguan. Pesan dari orang tua, keraguan pangkal penundaan, dan penundaan adalah bibit kegagalan. Berani, ambil tindakan, resiko pasti ada dan itu biasa, mengingat, di dunia ini, apa ada suatu tindakan yang tidak beresiko sama sekali? Kita keluar rumah berkendaraan saja sudah disambut oleh berbagai resiko, jangankan keluar rumah, ngendon di kamar, tidur saja kalau salah posisi bisa beresiko leher terkilir.

Ketika pergaulan berkembang, interaksi dengan banyak orang dijalin, ilmu baru saya petik dari mentor saya, yang memberikan motivasi melalui kalimat :

“Lebih baik salah karena bertindak, daripada tidak pernah salah karena tidak pernah melakukan apapun.”

Mencerahkan dan memotivasi, karena benar begitulah adanya, apa ada orang yang di dalam hidupnya tidak pernah salah sama sekali? Mustahil! Ada sebuah analogi sederhana tentang keraguan, bahwasanya orang yang nekat bisa selamat, yang hati-hati bisa selamat, namun yang ragu-ragu pasti tamat, tidak percaya? Coba bayangkan kita berada di perlintasan kereta api tanpa palang pintu, yang nekat bisa selamat, lari atau tancap gas sekencang-kencangnya, selama momentumnya tidak benar-benar pas, maka peluang lolos dan selamat masih terbuka. Yang hati-hati bisa selamat, tunggu, sabar, biar kereta lewat dulu, maka selamat. Yang jelas tamat adalah yang ragu-ragu, karena antara lewat atau tidak, bahkan mungkin di tengah-tengah rel malah berhenti, tamatlah sudah.

Ragu-ragu, lebih baik kembali! Tidak ada ruang untuk keraguan! Solusinya bagaimana? Lawan keraguan dengan keyakinan. Sebuah keyakinan yang kuat menutup celah untuk masuknya keraguan, jangan diberi kesempatan. Keyakinan itu bulat, tanpa kebimbangan sedikitpun. Keyakinan berbeda jauh dengan kemungkinan, keyakinan itu pasti, seyakin kita pada anak kecil yang belajar berjalan, pasti bisa berjalan, tak ada keraguan, meski jatuh, tidak seimbang, perlu berupaya keras dan berulang-ulang, sang anak dan kita tidak ragu sama sekali, pasti bisa, pasti berhasil, tinggal menunggu waktu, itulah keyakinan.

Salam SurpluS
———————-

Ditulis dari lereng Gunung Wilis
Kaki Air Terjun Sedudo

Faizal SurpluS MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s