Komunikasi Yang Memotivasi : Interpretasi Esensi

Standard

Mari memutar memori dan mengingat kejadian yang pernah kita alami. Pernah dimarahi? Pernah dibentak? Pernah didamprat habis-habisan? Bagaimana rasanya? Manis, asem, asin-kah? Bagaimana suasana hati kita? Grogi? Galau? Atau gugup luar biasa?

Anda rasakan begitu? Saya juga sama, bahkan mungkin lebih campur aduk rasa di hati dan di dada, itu lumrah dan merupakan suatu hal yang biasa. Dongkol pastinya, apalagi kalau dalam hati kecil kita ada naluri penolakan, ada teriakan kencang yang tak terucap bahwa sebenarnya bukan kita yang salah, atau walaupun kita memang salah, level kesalahannya juga tidak gitu-gitu amat, tidak parah-parah banget, ndak usah sampai ngotot gitu juga kali marahnya.

Persis, itu yang saya rasakan, mungkin banyak orang juga yang punya perasaan yang identik, ditegur, dikoreksi, diamuk, dimarahi, dengan nada tinggi ala rocker plus bonus intonasi yang bikin suasana jadi angker. Ngeri sampai bergidik seluruh tubuh.

Simak yang tercantum dalam setiap baris tulisan, mayoritas bahkan semua poin di atas membahas mengenai kemasan, bungkus dari penyampaian, tapi lupa bahkan tidak menyinggung sama sekali dengan esensinya, maksudnya apa, isinya apa? Dimarahi karena kesalahan apa? Titik kesalahannya dimana? Ini mis-directionnya! Saya pun juga mengalami gejala yang sama, semoga ini bisa menjadi inspirasi agar kita dapat merespon dengan lebih bijak saat menemui situasi yang serupa.

Fokus pada esensi! Itu pelajaran mahal yang saya petik! Berlian, meskipun keluar dari mulut anjing sekalipun, tetaplah esensinya adalah berlian! Tidak berkurang sedikitpun nilai esensinya. Saya harus berterimakasih pada mentor saya yang saya ingat betul kalimat motivasinya :

“Saya ngomong begini, untuk kebaikanmu sendiri, kamu berubah lebih baik saya tidak tambah kaya, kamu terpuruk lebih buruk saya tidak jadi melarat.”

Itu kalimat singkat dengan makna yang sangat mendalam, kombinasi antara kepedulian, keikhlasan, dan fokus pada esensi penyampaian, selama yang disampaikan benar dan dalam rangka saling mengingatkan dalam kebaikan, sampaikan saja, ucapkan saja, mau orang jadi terinspirasi atau malah sakit hati, biarlah menjadi efek samping dan dampak semata. Ini yang saya hayati kemudian, untuk menjadi tahan dan kuat mental menghadapi tekanan dalam bentuk intimidasi nada tinggi. Saya tidak lagi pedulikan nada-nya, tapi saya tangkap dan simak liriknya. Nada boleh enak boleh fals, tapi selama isi liriknya bagus dan bermakna, saya simak dengan seksama, saya catat dengan semangat jika diperlukan.

Dengan sikap mental tersebut, jangan kaget kalau kemudian kita bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih dewasa, matang dalam pemikiran, bijak dalam pengambilan keputusan, dan selalu meningkat dalam pengetahuan, dampaknya tentu kenaikan signifikan dalam level pencapaian, karena kita tidak lagi terkecoh oleh intonasi, namun fokus untuk melakukan interpretasi atas esensi.

Salam SurpluS!
———————–

Ditulis di Kota Jombang Beriman

Faizal SurpluS MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s