Komunikasi Yang Memotivasi : Apresiasi Berefek Anestesi

Standard

Saya memiliki pengalaman yang menarik, di sebuah lingkungan yang tegas, kalau tidak boleh dibilang keras. There are no room for errors, setiap proses seperti sebuah pilihan berlengan dua, memandu menuju kejayaan atau menuntun menuju kehinaan. Awalnya tentu ada perasaan kaget dan pastinya membutuhkan proses adaptasi yang tidak sebentar. Disinilah sebuah tempaan dirasakan dan dinikmati, jika di dalam kita dilatih dengan program yang lembek, maka di luar kita akan jadi pribadi yang kerdil dan pengecut, namun sebaliknya, jika di dalam kita digembleng dengan proses yang ketat, maka di luar kita tampil sebagai pribadi yang disiplin dan berprinsip kuat.

Apa yang kita harapkan saat meraih suatu hasil atau prestasi? Lumrahnya tentu saja penghargaan, pujian atas prestasi, atau lazim kita sebut dengan apresiasi? Bagaimana jika kita tidak mendapatkannya? Kecewa? Dongkol? Sedih? Kesal? Situasi itulah yang pernah saya alami, seakan setiap prestasi tidak berarti, seolah setiap hasil itu adalah berkat bantuan dan kebetulan belaka. Rasanya semakin menyesakkan saat yang dibahas dan dibicarakan adalah berbagai kekurangan, koreksi, evaluasi, tentunya lengkap dengan nada tinggi dan permainan kata-kata yang tajam dalam balutan ekspresi.

Jengah dan lelah rasanya, seperti sudah habis semua upaya dan ludes semua harapan, hingga ada satu titik saya mengingat kalimat motivasi yang saya sendiri sangat hapal, namun kurang sungguh-sungguh menerapkan, bunyinya :

“You are more than you think”

Mungkin ini jawabannya, ini adalah situasi praktek sebenarnya bahwa kita sebenarnya lebih dari yang kita pikirkan, kita lebih dari yang sudah kita capai selama ini, lebih dari yang kita dapatkan, lebih dari hasil yang kita raih. Kita perlu alarm, kita perlu pengingat, kita perlu pengejut, agar kita tidak terlena, bermalasan dalam perangkap zona nyaman. Saya seperti dibangunkan, digugah secara jiwa, bahwa ini bukanlah situasi yang buruk, ini bukanlah siksaan dan kesengsaraan, bahwa keadaan yang tegas dan keras ini adalah keadaan yang ideal dalam menempa diri meraih kesuksesan.

Seketika cara pandang saya berubah, dari kondisi penyesalan menjadi limpahan syukur yang tulus, betapa saya beruntung mendapat kesempatan dan keadaan yang tidak diperoleh bahkan mungkin hanya diimpikan oleh sebagian besar orang. Keadaan tidak standar yang sangat memajukan, karena faktanya orang-orang sukses bukanlah para pribadi standar dan tidak dibentuk oleh sebuah perlakuan standar.

Saya pun ingat salah satu banner yang terpasang di dinding salah satu lembaga pendidikan besar di Indonesia milik kawan akrab saya yang dengan bangga memajang tulisan :

“You are good, but make it better!”

Wuaah, saya seperti dilahirkan kembali, dari sekarat berbalik menjadi super semangat, siap menaklukkan setiap tantangan, siap membuktikan pencapaian dari setiap keraguan. Apresiasi memang penting, namun koreksi jauh lebih memajukan, dengan pemahaman ini, kita tidak mengidap gejala gila pujian atau haus sanjungan, kita senantiasa menjadi pribadi yang bertambah dan bertumbuh, dengan terus belajar, berlatih, dan melakukan berbagai sesuatu tidak hanya dalam standar bagus (good), namun dalam grafik naik (better).

Simpan apresiasi sebagai sebuah sistem pribadi, jangan biarkan melenakan kita dari tujuan. Apresiasi hanyalah atribut, bonus dari pencapaian, jangan biarkan keinginan diapresiasi membelokkan dari nilai sebuah pencapaian. Jangan biarkan apresiasi jadi anestesi yang membius dan membuat kita hilang kesadaran. Kita perlu kesadaran penuh, untuk tetap fokus dan konsisten pada komitmen pencapaian berbasis peningkatan.

Salam SurpluS!
———————–

Ditulis dari
Nganjuk Kota Angin

Faizal SurpluS MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s