Komunikasi Yang Memotivasi : Bahagia Seketika

Standard

Membaca judul diatas, kalau kita penikmat film, sangat mungkin akan mereferensi kebahagiaan pada film yang dibintangi oleh Will Smith berjudul “Pursuit of Happyness”. Memori saya pribadi mereferensi pada momen interaksi dengan rekan-rekan exchange students dari Belanda yang berkunjung di Indonesia disponsori oleh salah satu NGO Internasional, karena saat berkunjung, mereka mengkampanyekan program yang berjudul : “Road of Happiness?”.

Kebahagiaan, sebuah kata yang sakti dan ajaib, yang dikejar, dicari, menjadi idaman setiap manusia. Kita perlu penasaran, sebenarnya kebahagiaan itu sendiri makhluk apa? Bahagia itu bentuknya bagaimana? Betapa hebatnya sehingga mampu memikat setiap orang sehingga dengan sukarela menjawab saat ditanya :
“Apa yang paling Anda inginkan dalam hidup?”

Jawabnya mayoritas adalah :
“Bahagia.”

Unik memang, kita tidak pernah berkonferensi atau bermufakat mengenai hal ini, namun faktanya kita sepakat dalam jawaban dan kesepakatan.

Pertanyaannya, apakah kebahagiaan serumit itu? Apakah kebahagiaan begitu langka dan susah didapatkan dan tidak semua orang berhak meraihnya? Ini yang jadi kejutan, bukannya sebuah kelangkaan, ternyata kebahagiaan itu tersedia, tidak hanya cukup dalam jumlah, namun justru ada dan melimpah ruah! Bagaimana bisa? Faktanya memang begitu. Bahagia bukanlah sebuah komoditas yang terbatas, kita bisa peroleh saat ini juga. Bagaimana rumusnya?

Saya pernah mengalami, masa-masa pencarian yang tidak pendek, mengenai bagaimana sebuah kebahagiaan itu ternyata tidak dicari, namun justru diciptakan. Saya sempat mengalami penderitaan secara jiwa, ketika kebahagiaan diukur dengan benda, dan lebih sengsara rasanya saat benda-benda yang kita jadikan ukuran kebahagiaan adalah benda-benda yang belum kita miliki, seperti rumah megah, kendaraan mewah, bisnis yang hasilnya melimpah. Saya rasakan lelah luar biasa dengan cara berpikir seperti itu, seperti hidup di dunia utopia, yang entah ada atau justru tidak nyata dan semacam halusinasi saja?

Dari proses dan perjalanan, saya temukan sebuah esensi, yang bisa juga menjadi sebuah refleksi untuk kita semua, mengenai makna bahagia. Bahagia ternyata berdampingan erat dengan rasa syukur, bahagia itu saat kita mampu dengan tulus mensyukuri apa yang sudah kita miliki, dengan terus berupaya optimal memperjuangkan apa yang masih menggantung dalam ruang-ruang mimpi. Bahagia itu saat kita bisa menerima apa yang sudah ada dan dianugerahkan pada kita, mudah bukan? Nikmatnya bernafas, makanan yang kita telan, minuman yang masuk tenggorokan dan menyegarkan, fisik yang prima, keluarga yang rukun dan sehat, apapun yang melekat dan sudah kita miliki, patut disyukuri, itulah kunci bahagia. Tuhan pun sudah memberikan sebuah instruksi yang jelas dan lugas, yang intinya saat kita bersyukur, maka nikmat akan ditambahkan. Yang makmur makin makmur karena beryukur, yang hidup susah kerja berpeluh mungkin harus berhenti mengeluh agar nasib berubah dengan upaya yang sungguh-sungguh.

Bahagia itu sederhana, karena tantangannya adalah mengolah rasa, bagaimana kalbu dijaga agar selalu damai dalam setiap suasana, mensyukuri apa yang dimiliki, menikmati rezeki dari Sang Maha Pemberi. Jangan berambisi dengan kekayaan, jangan takut berlebihan dengan kemiskinan, namun senantiasa menjadi hamba yang bahagia dan bersyukur dengan kondisi berkecukupan.

Mau bahagia? Jangan nunggu dengan syarat yang beraneka. Bahagia sekarang juga, bahagia seketika.

Salam SurpluS!
———————-

Ditulis di Kartosuro,
Dini hari

Faizal SurpluS MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s