Komunikasi Yang Memotivasi : Bangkit, Lanjutkan, Menyerah Bukan Pilihan

Standard

Suatu hari ada seorang yang menggali tanah, dia mau membuat sumur. Dengan alat seadanya, proses penggalian dimulai, cangkul mulai dihujamkan, suara logam beradu dengan tanah keras bertalu-talu, memecah kesenyapan hari, keringat mulai menetes, otot-otot mulai digerakkan dan terus dipekerjakan, asam laktat mulai menumpuk, rasa haus dan lelah mulai terkumpul, sekitar satu meter menggali, belum ada tanda-tanda air sebagai syarat sebuah sumur, mungkin yang dilakukan sia sia, mungkin tidak ada air disitu, maka proses penggalian dipindah, diulang lagi, proses diawali kembali.

Mungkin cerita analogi tersebut terdengar tidak masuk akal, betapa pendek pemikiran sang penggali, mana bisa baru menggali satu meter berharap sudah ada sumur berair jernih. Terdengar ironi, namun jangan-jangan dalam melakukan pekerjaan dan pencapaian tujuan, kita sering melakukannya tanpa disadari? Baru berupaya sudah mengeluh, baru berbuat sudah memprotes, baru memulai sudah mau menyerah. Rumus konsisten sering lepas dari ingatan, kata istiqomah kita tahu artinya namun gagap dalam mempraktekkannya. Kita sering tidak sabar dengan hasil dan pencapaian, namun lupa dan tergesa untuk telaten dalam prosesnya.

Saya sering menganalogikan, dalam sebuah perlombaan sukses, ternyata pengembara dan penambang memiliki tipikal yang berbeda. Pengembara pergi kemana-mana, menjelajah berbagai tempat, mencoba banyak suasana, namun hanya sejenak, sekilas, dan tatarannya permukaan. Ini berbeda dengan penambang, yang fokus di satu titik atau area, meyakini bahwa ada logam berharga disana, namun perlu proses untuk menggali dan mendapatkannya. Menurut saya pribadi, dalam sebuah perlombaan kesuksesan, sang penambang memiliki keunggulan dalam upaya meraih kesuksesan, areanya terbatas, spesifik, dalam tataran tipikal, sang penambang sudah melakukan spesialisasi atas keahlian dan sukses yang ingin diraih, seperti guyonan para dokter, dimana yang berlabel spesialis tentu proses belajarnya lebih lama dan intensif daripada yang berlabel dokter umum, dan berdampak pada tarif yang dipatok, dokter spesialis tentu lebih mahal.

Pepatah Jepang mengatakan :
“Jatuh 7x, bangkit 8x”

Itulah rumus anti gagal yang sederhana dan mengena, artinya berapa kalipun jatuh tidak masalah, asalkan memiliki kemauan dan tidak kehilangan antusiasme untuk bangkit sekali lebih banyak dari jumlah jatuhnya. Sukses itu pasti, keberhasilan itu jaminan, selama tidak berhenti dan menyerah. Dalam posisi kita terus melakukan dan berkelanjutan dalam pembenahan, maka kita terus berproses dan menjaga kartu kita tetap hidup, mengawal kans tetap di genggaman kita. Jangan mudah menyerah dan berpindah, memang terasa lebih mudah dan praktis dilakukan, namun faktanya, justru menjauhkan dari kesuksesan. Berpindah dan beralih hanya membuat kita memulai kembali dalam grafik horizontal, alias segitu-segitu saja, gimana tidak, lha selalu berulang melakukan reset lagi, mulai dari nol lagi. Perdalam, perkuat pemahaman dan tingkatkan keahlian di satu bidang, buktikan keunggulan dari pengalaman dan jam terbang, maka pada titik tersebut prestasi dan pencapaian tidak lebih dari sekedar dampak semata.

Sang penggali sumur melanjutkan hujaman cangkulnya, lebih dalam dan lebih dalam, dia mulai dapatkan air, keruh memang, namun cukup untuk memberinya tambahan keyakinan. Dia lakukan penggalian lebih dalam, dengan alat yang lebih canggih dan teknik yang berkembang dari pengalamannya, sumur digali semakin mendalam, perlahan air mulai jernih, dia rapikan tepian galian dengan batu dan semen penguat, sambil terus memperdalam sumurnya, berat memang dan perlu kerja keras, namun dia sudah memiliki keyakinan kuat dan bukti akurat, bahwa sumur yang dibuatnya memberikan hasil yang melimpah hebat, dan terus memberikan nilai manfaat.

Salam SurpluS!
———————–

Ditulis di Rembang, 05/05/2014
Dini hari

Faizal SurpluS MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s