Komunikasi Yang Memotivasi : Berbenah Saat Kalah

Standard

Seperti sebuah permainan, pastinya di akhir babak pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Yang menang layak bersorak dan merayakan dengan girang, bersukacita dan mensyukuri prestasi atas keunggulan supremasi. Pertandingan panjang yang melelahkan, menguras waktu, pikiran, tenaga, biaya, menguras segala konsentrasi, tentu sang pemenang layak mendapat apresiasi, ucapan selamat, dan hadiah yang berlimpah.

Menikmati kemenangan adalah sebuah proses yang relatif lebih mudah dilakukan, selama tidak besar kepala, terlena, dan jumawa, kemenangan adalah momen manis yang menyenangkan hati dan memberikan energi untuk kembali berprestasi dalam tingkat yang lebih tinggi. Kondisi yang relatif lebih menantang adalah bagaimana untuk tetap bersikap dengan tepat saat berada dalam posisi kalah? Terpuruk, takluk, seolah semua upaya yang dicurahkan sia-sia karena hasil akhir menunjukkan bahwa yang jadi juara bukanlah kita. Inikah saat untuk menyerah?

Ternyata tidak, kekalahan bukanlah sebuah akhir. Benar itu adalah momen akhir babak dalam sebuah permainan, namun bukanlah akhir dari kehidupan bukan? Kekalahan bukanlah sebuah dosa, kekalahan adalah momen untuk jeda, mengatur kembali nafas, melakukan introspeksi dan merendahkan hati untuk menemukan poin-poin koreksi, untuk kemudian kembali mendaftar dan mengikuti kompetisi, karena tidak ada yang tahu siapa yang mendapat ‘giliran’ menjadi juara di periode berikutnya. Saat kita kembali ikut, maka kita mendapatkan kesempatannya, namun ketika kita terlalu lama larut dalam penyesalan atas kekalahan, dijamin kita akan selamanya berhenti dan tidak akan pernah menemukan titik balik untuk kemudian berprestasi.

Pecinta sepak bola pasti sudah paham betul dengan salah satu kompetisi bergengsi di benua Eropa yang bertitel Liga Champions, klub-klub dari penjuru Eropa berjuang, bersaing, berupaya menjadi peraih gelar prestisius tersebut. Dana besar, pemain bintang, latihan keras, dijalani demi mengalahkan lawan bahkan sejak babak kualifikasi, hingga akhirnya 2 klub yang terkuat beradu kekuatan di babak final. Pastinya momen ini berlangsung dramatis dengan tensi yang tinggi, masing-masing klub ingin menang, dengan menggunakan strategi tercanggih dan susunan pemain yang mentereng. Apakah keduanya bisa sama-sama menang? Tentu tidak, pemenang itu satu, maka satunya tentu menjadi pihak yang kalah.

Apakah klub yang kalah kemudian menjadi galau, putus asa, dan kemudian memutuskan untuk menutup dan membubarkan klub-nya karena kecewa? Tentu tidak! Saatnya berbenah saat kalah, berlatih lagi, tingkatkan disiplin, perbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi, dan ikut kompetisi lagi di musim berikutnya. Itulah analogi yang tepat mengenai apa yang perlu kita lakukan. Berbenah, dan kembali ke dalam hiruk pikuk kancah, mengatasi keadaan, membalikkan keadaan, dan jangan pernah kehilangan antusiasme untuk meraih kemenangan.

Salam SurpluS!
———————–

Faizal SurpluS MBA
Motivator Berwajah Arab
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s