Level Up : Jurus Cerdas Mahasiswa Berkelas

Standard

Dimanapun kita berada saat ini, selalu ada level yang lebih tinggi, selalu ada level diatas level kita saat ini. Maka jangan mudah puas, jangan lengah dan terlena. Terapkan Level Up! Naikkan grade, jangan mau berlama-lama statis di satu tingkat, waspadalah dengan zona nyaman yang menjerumuskan.

Kuliah itu maha, sekolah itu siswa. Pada saat masih jadi siswa, kita diatur-atur, diawasi, dijadwal dan diurus segala sesuatunya, begitu jadi mahasiswa, banyak yang berubah, gelar maha menjadi pembeda. Mahasiswa dianggap dewasa, mandiri, dan mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Secara pemahaman, mandiri artinya mampu memenuhi minimal kebutuhan dirinya sendiri. Kuliah harus lepas dari ketergantungan dana dari orang tua. Meski mendapat uang saku dari orang tua pun, anggap sebagai beasiswa, catat dan pergunakan dengan seksama. Mahasiswa yang istimewa adalah yang tidak cuma kuliah belaka, namun kuliah dan bekerja. Inilah nilai tambah. Praktek level up yang sebenarnya.

Manfaat dari Level Up sendiri, saya hayati dari sebuah momen. Ceritanya, pada satu kesempatan, saya bersinergi dengan salah satu EO besar dalam menggelar Job Fair, skalanya regional, dilaksanakan dalam rangkaian 4 hari penuh, dan booom…!! Selama 4 hari acara, sekitar 3 ribu pelamar kerja hadir dan memperjuangkan karir impiannya. Ruangan yang kami sewa selalu penuh dan padat sepanjang sesi job fair berlangsung. Yang menarik, setiap akhir hari, para staf HRD perusahaan lokal, regional, nasional, bahkan multinasional, memilah berkas lamaran yang masuk dan bisa ditebak, hanya sebagian kecil berkas yang ‘dibawa pulang’ oleh para staf HRD, sisanya ditinggal begitu saja tanpa pengecekan seksama, bebas diangkut oleh para petugas kebersihan. Saya pun penasaran, saya simak sekilas, mayoritas adalah berkas dari para pelamar kerja yang fresh graduate, guyonan dari para staf HRD :

“Ini berkas lamaran dari yang mentang-mentang fresh graduate Mas Faizal, terlalu fresh…”

“Saya tanya lagi, apakah tidak dicek seksama Bu?”

Dijawab dengan mudah :

“Mas Faizal, mereka ini belum diterima saja sudah tidak disiplin, mulai dari surat lamaran belum ditandatangani, foto salah background atau ukuran, bahkan berkas tidak lengkap. Jadi daripada saya bingung memecat mereka nantinya, lebih baik tidak saya terima dari sekarang.”

Ini sebuah satir, sekaligus fakta, bahasa film-nya : an unconvenient truth, yang tidak saja kita sikapi berupa senyum kecut, namun juga sebuah tindakan nyata. Terlalu fresh itu sinonim dengan = tidak bisa apa-apa dan belum siap bekerja. Ketika ditanya, kuliah buat apa sih? Buat persiapan! Persiapan apa? Persiapan karir. Ternyata dari pengalaman saya, pilihan karir itu cuma ada dua, tidak kurang dan tidak lebih, yaitu : employee dan entrepreneur. Kerja atau Bisnis, Karyawan atau Owner, dan bagus mana diantara keduanya? Sama bagusnya, jangan fanatik sempit, karena kalau bisnis semua, yang kerja siapa? Kalau kerja semua, yang menyediakan pekerjaan siapa? Jadi bagus semua! Yang tidak bagus adalah yang tidak memilih, karena jika tidak memilih, maka secara otomatis berstatus sebagai pengangguran.

Nah saat masih menjadi mahasiswa, memilihlah, tentukan cita-cita, dan persiapkan sungguh-sungguh. Kapan waktunya? Saat ini juga, saat masih kuliah, karena itulah momen persiapan yang sebenarnya. Dimana-mana kita pahami, bahwa persiapan itu dilkukan sebelum terjadi, itulah yang disebut preventif. Kalau sudah lulus baru menentukan lalu bingung dan terburu-buru, itu namanya terlambat, sesal kemudian tiada guna.

Tentukan, putuskan, persiapkan. Mau jadi employee dan mau jadi entrepreneur sama bagusnya, tapi beda persiapannya. Kalau jadi employee, lakukan level up, jaga nilai akademik, banyak ikuti magang, freelance, dan lengkapi diri dengan sertifikat serta piagam dari berbagai kursus dan pelatihan, apalagi dengan kemampuan bahasa serta komputer, maka dijamin kita menjadi primadona dalam proses perekrutan dunia kerja. Kalau mau jadi entrepreneur, prosesnya tentu berbeda. Level up dengan segera memilih bisnis yang mau dijalani, lakukan, mulai menjual. Berkumpul dan berlatih dengan para entrepreneur yang sudah sukses, tempa diri dengan kegagalan dan kerugian lalu bangkit dan lanjutkan perjuangan meraih impian. Entrepreneur adalah tokoh kartun, yang tahan banting dan selalu antusias mengejar cita-citanya.

Sekolah lulus, kuliah, selesaikan dengan cepat dan seksama, pegang ijazah, mau jadi entrepreneur maupun employee terserah, pastikan diri siap berkarir, pastikan jadi fresh graduate yang Level Up!

Salam SurpluS!
———————–

Faizal SurpluS MBA
Motivator Berwajah Arab
081336009066 – 29D64545
@FaizalSurpluS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s