Komunikasi Yang Memotivasi : Koreksi dan Introspeksi

Standard

Saya punya rahasia kecil mengenai pujian. Saat dipuji, respon umum kita adalah senang, bahagia, gembira, bersukacita. Senyum merekah, pipi merona, hidung memanjang dan kepala membesar. Lumrahnya, kita suka dipuji, kita siap menerima pujian kapan pun dan dalam situasi apapun, meski ada sebuah fakta menarik dari sebuah pujian. Kita harus sadari bahwa pujian tidak menambah apapun pada diri kita. Dipuji tampan, cantik, gagah, atau keren, tidaklah menambah ketampanan, kecantikan, kegagahan dan level keren kita. Pujian hanyalah penyampaian atas apa yang sudah ada pada diri kita, tidak lebih dari itu.

Bagaimana dengan koreksi? Apa reaksi kita ketika mendapat koreksi? Kaget, marah, tersinggung, apa malah tersenyum kecut? Koreksi tidak akan memunculkan dampak perbaikan selama kita tidak luas hati menumbuhkan penerimaan. Seperti pasien yang tidak lekas sembuh karena selalu menolak dan memuntahkan kembali obat yang seharusnya diminum sesuai resep dari dokter. Memang benar obat rasanya pahit dan tidak selezat permen kesukaan kita, namun itulah adanya. Koreksi itu mencerahkan, koreksi itu memberitahu. Koreksi adalah sebuah input yang sangat baik dalam upaya kita berbenah, menuju peningkatan dan upaya berkelanjutan yang diebut perbaikan. Koreksi menjadi pintu pemberitahu, di titik mana kita mengalami lack of knowledge dan lack of skill.

Memang tidak mudah, memang penuh dengan perjuangan, karena kita tidak sedang bergulat dengan orang lain, namun lebih pada menundukkan dan menaklukkan diri kita sendiri. Ada ego, ada gengsi, ada gejolak, ada rasa sok yang perlu kita redam dan endapkan. Dengar masukannya, hayati kesalahannya, baru kita bisa menangkap esensi dari koreksi dan secara taktis menyusun langkah-langkah perbaikan.

Koreksi erat kaitannya dengan introspeksi. Saya jadi ingat sebuah pertemuan dengan salah satu Kyai sepuh di Jawa Timur. Dalam sebuah perbincangan sembari menikmati sajian makan siang yang sederhana namun nikmatnya luar biasa, Sang Kyai menyampaikan sebuah ilmu tentang introspeksi :

“Kalau kita mau tahu mengenai kejelekan diri kita, keluar dari diri kita, dan lihat dari luar, betapa banyak kekurangan yang perlu dibenahi dari diri kita.”

Saya menangkap sebuah makna yang dalam dari sebaris kalimat yang disampaikan Sang Kyai. Itulah esensi dari introspeksi, melihat ke dalam diri kita sendiri, dari luar, dengan ketenangan dan objektifitas, mengobservasi dan menginventarisasi kekurangan, serta berkomitmen melakukan perubahan yang diperlukan. Jangan bicara mengenai kesempurnaan, manusia terlalu sombong saat berbicara mengenai kesempurnaan. Instrospeksi lebih mengarah pada perbaikan berkelanjutan. Perbuatan baik yang sedikit namun berkelanjutan lebih diapresiasi daripada perbuatan baik yang besar namun hanya sekali dilakukan, apalagi perbuatan baik yang hanya dibahas namun tidak pernah terlaksana.

Koreksi dan introspeksi adalah rangkaian bertaut. Koreksi menjadi indikator, introspeksi menjadi proses internal yang indah, penuh kejutan, dan memberikan kenikmatan saat kita mampu menjadi pemenang dan memberikan pembuktian pada diri kita sendiri, bahwa kita mau dan mampu menjadi pribadi yang lebih baik.

Salam SurpluS!
———————–

Faizal SurpluS MBA
Motivator Berwajah Arab
Tinggal di Malang
@FaizalSurpluS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s