Komunikasi Yang Memotivasi : Mengejar dan Menghindar

Standard

Ada seekor kuda yang berlari kencang, dengan otot kakinya yang kekar, dengan nafas yang menghembus teratur, dan derap langkah yang menimbulkan bunyi khas dari besi ladam yang mantap menjejak bumi.

Ternyata kuda itu semangat berlari karena mengejar wortel yang terpasang pada tangkai pancing dan tergantung pada jarak tertentu di depannya. Tidak cuma itu, ternyata di belakang, kuda itu semakin semangat bergerak karena ada joki yang mencambuk tubuhnya. Pantas saja sang kuda berlari dengan sekuat tenaga, karena ada dua faktor yang memicu pergerakannya, yakni harapan dan ancaman.

Kuda tadi adalah ilustrasi yang bagus untuk mendiskusikan motivasi, dalam bahasa inggris disebut motivation, yang menurut Om Andrie Wongso merupakan senyawa antara motive (tujuan) dan diwujudkan melalui action (tindakan). Ada korelasi menarik antara harapan dan ancaman, keduanya adalah dua kutub yang bertolak belakang, namun pada hakikatnya memiliki fungsi yang saling bersinergi. Naluri dasar manusia adalah mencari senang (mendekati harapan) dan menghindari sengsara (menjauhi ancaman), itulah drama harian yang kita lakukan setiap hari. Kenapa kita bekerja, melakukan hal-hal yang kita lakukan setiap hari, adalah dalam rangka merespon naluri ini. Meski harapan dan ancaman sudah ada dalam diri kita dan melekat sebagai naluri, apabila tidak secara intensif dan berkelanjutan, naluri tersebut bisa mati. Kita tidak punya harapan untuk dikejar, dan tidak punya ancaman untuk ditakuti, hasilnya jelas, dijamin hidupnya disingkat dalam istilah MaDeSu alias masa depan suram.

Salah satu tanda hidup adalah bergerak, jika sudah tidak lagi bergerak, maka disebut mati, seperti dalam istilah jawa :

“Wong mati ora obah, yen obah medheni bocah”

Harapan dan ancaman ini menjadi pemicu gerakan dalam hidup, sumber semangat dan pabrik motivasi internal dalam diri kita. Seberapa besar motivasi itu muncul? Tentu ini bisa kita jawab dengan kaidah kausalitas sederhana, besar kecilnya motivasi yang muncul tergantung pada besar kecilnya harapan yang hendak dicapai di hadapan, dan besar kecilnya ancaman yang ditaruh di belakang.

Kita sudah akrab dengan idiom :

“Low risk – low profit, high risk high profit.”

Harapan kecil ya ancamannya kecil, maka motivasinya ya kecil saja, tidak perlu berlebihan, karena kalau berlebihan kata anak jaman sekarang disebut alay, lebay, dan jijay.

Pembedanya adalah kecanggihan kita dalam menentukan harapan dan ancaman ini, taruh harapan diatas kemampuan kita yang pasti mendapatkan, artinya tentukan harapan yang berada di atas kemampuan kita namun tetap realistis, sehingga kita sudah set dari awal, untuk mencapai itu, kita perlu upaya, waktu, dan biaya ekstra. Di sisi yang lain, letakkan ancaman yang memang benar-benar mengancam, sehingga kita ngeri dan berhati-hati mengantisipasi agar hal tersebut tidak terjadi, namun tentu tetap dalam batas realistis, sehingga ancaman pun kita tempatkan sebagai sebuah resiko terhitung.

Dalam religi pun pembahasan mengenai harapan dan ancaman dimuat secara elegan. Intisarinya adalah :

“Bekerjalah seperti kita akan hidup abadi, beribadahlah seperti besok kita akan mati.”

Bekerja bersungguh-sungguh agar tidak hidup sengsara sebagai ancaman, dan beribadah sungguh-sungguh dengan penuh harapan agar mendapat ridho dari Tuhan.

Salam SurpluS!
———————–

Faizal SurpluS MBA
Motivator Berwajah Arab
@FaizalSurpluS
Tinggal di Kota Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s