Revolusi Potensi Diri : Kerja Cerdas

Standard

“Ngerjakan gitu aja ndak beres, cerdas dikit dong…!!!”

Cerdas dikit aja bisa memberi harapan beresnya pekerjaan, apalagi kalau cerdasnya banyak ya. Kemampuan melakukan sebuah pekerjaan secara cerdas memang sebuah nilai tambah, yang sulit menjadi mungkin, yang lama menjadi cepat, yang rumit menjadi praktis, dan tidak jelas menjadi lugas. Sering kecerdasan disamakan dengan tingginya tingkat intelektualitas, yang sebenarnya tidak sepenuhnya tepat, karena pintar dan cerdas adalah dua ranah yang berbeda. Pintar itu di otak (logika), cerdas itu di hati (rasa). Pintar cenderung mudah stress, karena semua dirumus dengan kausalitas, jika begini maka begitu, jika sebab dipenuhi maha akibat didapat, cerdas mengambil posisi yang berbeda, orang yang cerdas senantiasa luas hati, sehingga selalu ada ruang untuk solusi. Pengalaman saya, bekerja cerdas secara mudahnya diukur dalam dua standar sederhana, yakni dalam hal efektifitas dan dalam hal efisiensi. Berikut pemaparan ringkasnya :

Efektifitas
Berbicara mengenai efektifitas, erat hubungannya dengan hasil, selama hasilnya identik dan sesuai target, maka beraneka ragam ide relevan untuk diutarakan, beragam cara dan variasi halal untuk diterapkan. Ketika kita menggunakan pendekatan kerja cerdas, maka. Selalu berpikir bahwa ada cara yang lebih efektif untuk meraih hasil yang sama. Kondisi ini yang mendorong tumbuhnya inovasi sebagai terobosan dalam meraih hasil yang sama, bahkan dalam beberapa kasus, hasilnya jauh lebih baik. Saya jadi teringat pesan guru saya terkait profesi sebagai motivator, bahwa motivator adalah entertainer, mereka bukanlah penghujat kondisi yang tidak kondusif dan berperan sebagai superhero yang mampu menjadi pembenah keadaan, motivator justru adalah nilai tambah, dari kondisi yang sudah ada, sehingga slogannya : “This is good, but let’s make it better!”
Maka hentikan debat kusir dalam bekerja, orang cerdas menempatkan efektifitas dalam meraih hasil, tidak “Usah adu pintar rebutan benar”, namun kerucutkan pada kesepakatan akan tujuan, dan luaskan hati untuk memberi ruang setiap masukan yang mendukung proses pencapaian.

Efisiensi
Sedikit berbeda, kalau efisiensi menitikberatkan perhatian pada aspek penggunaan sumberdaya. Apakah waktunya lebih singkat? Apakah biayanya lebih murah? Apakah orang yang dilibatkan lebih sedikit? Apakah ruang yang dipakai lebih hemat? Pertanyaan-pertanyaan kritis ini secara naluriah muncul dalam benak para praktisi kerja cerdas. Manfaatnya jelas, sangat relevan saat kita bekerja dalam kondisi keterbatasan, atau ketika kondisi yang dihadapi adalah kondisi penghematan. Orang yang menerapkan kerja cerdas bukan peminta keadaan ideal, namun secara alami mereka adalah pencipta keidealan tersebut dengan sumberdaya yang tersedia.

Terapkan kerja cerdas, dimanapun kita berkarir dan berprofesi, dengan kerja cerdas, yang konsisten menerapkan efektifitas dan efisiensi, jangan terkejut saat produktifitas muncul sebagai bonusnya.

Salam SurpluS!
———————–

Faizal SurpluS MBA
Motivator Berwajah Arab
@FaizalSurpluS
Tinggal di Kota Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s