Komunikasi Yang Memotivasi

Standard

Kita tidak bisa tidak berkomunikasi, segala hal yang kita lakukan pada hakikatnya memiliki makna komunikasi, mulai dari kalimat yang terucap, tatapan mata, ekspresi wajah, gerakan tangan, bahkan diam juga merupakan komunikasi. Pertanyaannya, komunikasi seperti apa yang dimaksud? Jika komunikasi hanya diartikan sebagai proses ngomong, maka tidak perlu dibahas panjang lebar, toh setiap orang normal pasti bisa ngomong. Namun apabila dimaknai secara lebih mendalam, komunikasi yang berdampak secara signifikan, maka komunikasi menjadi sebuah hal yang menarik untuk didiskusikan.

Dalam pembahasan ini, kita akan memperdalam komunikasi dari satu sisi yang menarik, yakni bagaimana kita menerapkan komunikasi yang memotivasi, lho, berarti ada komunikasi yang tidak memotivasi dong? Betul! dan ternyata mayoritas dari kita tanpa sadar telah menjadi praktisi handal dalam hal komunikasi yang tidak memotivasi. Dasarnya adalah sebuah rumus motivasi klasik, yakni K+R=H, Kejadian + Respon = Hasil. Apapun kejadian yang kita alami, ternyata masih dipengaruhi oleh variabel kedua yang namanya respon, sehingga menjadi kesimpulan yang kita sebut hasil. Contoh = kejadian handphone hilang. Kita bisa merespon dengan menyesal sejadi-jadinya, meratapi kontak yang hilang, menangisi dokumen, fotom dan video yang tersimpan di dalamnya, bercerita pada setiap orang yang kita temui tentang kemalangan yang kita alami. Hasilnya? Kita semakin sedih dan handphone tetap hilang. berbeda hasil jika kita memberikan respon berbeda, Kita segera urus ke operator untuk mendapat penggantian kartu seluler, mengumpulkan kembali kontak yang hilang, memberi kabar ke rekan-kolega penting agar tidak kesulitan menghubungi kita, segera mencari dan menggunakan handphone sementara, dan bekerja giat – sistematis untuk mendapat handphone yang baru. Hasilnya berbeda 180 derajat.

“Mudah diomongkan, tapi diterapkan ya susah…..”

Ini termasuk salah satu praktek umum dari komunikasi yang tidak memotivasi, pemikirannya memegang rumus “Mungkin sih, tapi sulit!”, maka sulitnya yang melekat, untuk menerapkan komunikasi yang memotivasi, tinggal membalik rumusnya, “Memang sulit, tapi mungkin dilakukan.” Bagaimana caranya? Mekanisme manusia yang luar biasa akan berproses dan memunculkan berbagai alternatif dan pilihan cara, serta segera melakukannya, gak pake’ lama.

Maka, sebenarnya komunikasi yang memotivasi itu prakteknya sederhana, apapun kondisi dan kejadiannya, mau untung-rugi, berhasil-gagal, mendapat-kehilangan, itu semua adalah proses, jangan terpuruk karena karut dalam penyesalan dan meratapi yang sudah terjadi. Jangan menambah rasa kecewa dengan berharap kejadiannya tidak begitu, karena faktanya, sudah terjadi dan itulah kejadiannya. terima dengan lapang dada dan muka tegak, kalau bahasanya anak jaman sekarang, move on! Jangan biarkan hati terkotori dengan kata-kata penjebak seperti andaikan, jikasaja, apabila, harusnya. jadilah praktisi komunikasi yang memotivasi dengan berani mengambil tanggung jawab atas diri sendiri, sepenuhnya dan seutuhnya, sehingga kita bisa lantang berkata :

“OK, inilah situasinya, mari kita susun langkah selanjutnya!”

———————

Salam SurpluS!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s