Komunikasi Yang Memotivasi : Keputusan Tanpa Penyesalan

Standard

Pernah galau?
Pernah bimbang?
Pernah kebingungan menentukan?

Kondisi itu umumnya terjadi karena terlalu lama mempertimbangkan tanpa kesegeraan untuk mengambil keputusan. Jangan tunda dan jangan berlama-lama, karena pada hakikatnya, hidup adalah menemui pilihan, memutuskan, dan memunculkan pilihan-pilihan berikutnya. Terlalu lama berarti membuang waktu, dan bisa jadi melewatkan kesempatan-kesempatan yang berseliweran, dibiarkan berlalu begitu saja.

Jangan bingung saat menemui pilihan, tips paling mudah adalah sempitkan pilihan menjadi dua, dan ambil keputusan dengan segera. Jangan lupa, apapun keputusan yang diambil, terima hasilnya, jangan pernah tangisi dan sesali. Keputusan tanpa penyesalan ini adalah fondasi untuk senantiasa memiliki energi maju, bergerak, optimis dan antusias menatap dan menjemput masa depan. Jangan mau menjadi narapindana yang dikurung oleh masa lalu yang telah tertinggal jauh di belakang. Putuskan dan jangan pernah sesali, adalah rumus fight tanpa kenal menyerah dan membebaskan diri kita dari sifat cengeng yang mengungkit-ungkit masa lalu dan menyesali yang sudah terjadi. Berharap keadaannya tidak begitu, meski fakta dan buktinya adalah begitulah keadaannya. Jangan ditinggal lari, hadapi dengan gagah berani, seorang yang hebat bukanlah yang mampu berhasil dalam setiap upayanya, tapi orang hebat adalah yang mengambil tanggung jawab dari setiap keputusan yang diambilnya.

Putuskan segera, agar juga mengetahui hasil dan dampak dengan segera. Saat pintu tertutup, jangan membuang energi dengan mengumpat dan menendangi pintunya, jangan-jangan Tuhan begitu menyayangi kita, dengan menutup pintu tersebut untuk menuntun kita menemukan pintu yang lebih luas, lebih lega, lebih mudah dibuka, dan apa yang ada di balik pintu yang lain itu lebih memberikan kemanfaatan pada kita. Janji Tuhan pun tidak pernah meleset, bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan, yakini dan hayati, maka setiap keputusan bukanlah sebuah penyesalan, pada hakikatnya setiap keputusan adalah tantangan dan keindahan, lagipula, itulah yang membuat hidup lebih menarik, bahwa tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi besok. Manusia berencana, Tuhan menentukan, manusia menganalisis dan memprediksi, Tuhan memberikan realitas dan fakta yang disuguhkan di depan mata kita.

Maka yakinlah dalam mengambil keputusan, total ambil tanggung-jawabnya, dan selalu tingkatkan semangat – optimisme, jangan ada penyesalan, kegagalan itu tidak ada, yang ada sebenarnya adalah feedback atas keputusan kita, dan tidak ada sikap yang lebih baik terhadap feedback, selain mengambil hikmah, dan menjadikannya landasan untuk berbuat lebih baik di kesempatan berikutnya.

Ditulis di Sumenep
Kota Sumekar

——————–
Faizal Alfa MBA
Motivator Komunikasi
Tinggal di Kota Malang
@FaizalMotivator

Komunikasi Yang Memotivasi : Nolifikasi

Standard

Dalam sebuah perjalanan antar propinsi, saya teringat akan hukum petani, konsep ini dikemukakan oleh Shiv Kera, motivator hebat yang menginspirasi begitu banyak orang, namun saya sendiri pertama kali menikmati ‘Law of Farmer’ dari salah satu sesi materi Om James Gwee, sang Indonesia’s Favourite Trainer. Intensi fokus saya mengarah pada salah satu proses yang dialami petani, ketika sudah terlanjur menanam sebuah bibit, sudah kita telateni, sudah kita rawat dengan seksama dan penuh dengan atensi, namun ternyata menunjukkan gejala-gejala tidak sehat, alias berpenyakit, maka pilihan untuk terus merawat dan menyemainya ternyata tidak disarankan. Air yang dialirkan, pupuk yang ditaburkan kemudian, proses perawatan dan pemantauan, akan menelan pikiran, waktu, dan biaya yang jelas dan bisa diperkirakan, namun dengan prediksi hasil yang dipastikan tidak menemui harapan.

Nah, apa kemudian yang disarankan? Petani harus mengambil keputusan! Lakukan tindakan! Ternyata tanaman yang diindikasi berpenyakit dan sedang dalam masa pertumbuhan, harus dicabut dan dibersihkan. Eliminasi tanaman dan selamatkan lahan, untuk mencegah nominal yang lebih besar sebagai resiko kita akan kerugian. Titik inilah yang saya beri istilah sendiri : nolifikasi, dikembalikan ke nol lagi. Memang dalam posisi ini, kita harus mengedepankan objektifitas dan menyiapkan mental untuk rugi, sebagai exit-plan pencegahan kerugian yang lebih besar.

Tidak usah disesali dan diratapi, yang lalu biarlah berlalu. Energi tidak diperoleh dari mengigau atas masa lampau, namun energi dirangkai dari optimisme atas masa depan. Istirahat sejenak, ambil nafas panjang dan kendurkan sejenak sekujur otot, untuk menghimpun kembali tenaga dalam mengolah tanah, demi bibit baru yang lebih baik, lebih subur, lebih menghasilkan dan lebih memberikan keluasan manfaat.

Tidak ada yang sia-sia. Dari nol, kembali ke nol. Jangan kecil hati, karena ini nol yang sudah pernah bergerak lincah dan terampil, nol yang bertindak dan melakukan, nol yang sudah memiliki bekal mental dan energi positif yang sudah didepositokan.

Mungkin dalam hidup kita menemui kondisi yang sejenis dengan sang petani, kita sudah tahu caranya. Nolifikasi bukanlah akhir dunia, hanya sebuah proses menutup buku yang sudah harus ditamatkan, untuk memulai tulisan di buku baru dengan optimisme dan antusiasme yang tidak berubah, bahkan semakin bertambah.

Ditulis di Tuban, Jawa Timur.

Faizal Alfa MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Komunikasi Yang Memotivasi : Menginterpretasi Potensi

Standard

Benarkah kita sudah melakukan semuanya?
Betulkah kita sudah mencurahkan yang terbaik?
Apakah sudah kita memberikan upaya maksimal?
Atau jangan-jangan masih belum menggunakan semua tenaga dan upaya?
Itulah potensi. Saya jadi ingat salah satu film yang teramat sering cuplikannya ditayangkan dan dijadikan inspirasi dalam sesi-sesi motivasi, sebuah film berjudul “Facing The Giant”, dimana dalam salah satu scene, sang tokoh bernama Brock diberi tantangan oleh sang pelatih melakukan latihan fisik bernama “The Death Crawl” dengan tambahan menggendong temannya dan mata tertutup scarf. Hasilnya di luar dugaan, Brock yang memperkirakan dirinya hanya mampu melakukan “The Death Crawl” sejauh 50yard, dengan support dari Sang Pelatih, mampu melakukan tantangan hingga ujung lapangan, luar biasa!

Saya ingat-ingat, mungkin kita juga sering dalam situasi yang sama, perlu upaya ekstra, perlu tenaga tak terkira, aslinya masih punya banyak tenaga, tapi terpendam, tidak kita sadari, sehingga tidak kita gunakan. Inilah frasa kunci dari potensi, sesuatu yang sudah ada dalam diri kita, namun tidak kita sadari, terpendam, ada di dalam, kita tidak pernah tahu, karena tidak pernah melakukan proses yang sungguh-sungguh untuk mengetahuinya. Kita boleh saja hidup belasan bahkan puluhan tahun bersama fisik dan pikiran kita, namun apakah kita sudah benar-benar mengenalnya, atau akrab dengannya? Belum tentu! Ini yang menjadi ‘blocking-factor’ yang menyembunyikan hal-hal istimewa dan luar biasa dari diri kita.

Ketika kita tidak menyadari potensi yang ada dalam diri kita, potensi tetap menjadi potensi karena kita juga pastinya tidak gunakan. Ini satu rangkaian, tidak menyadari, maka tidak menggunakan. Lebih kompleks jika ‘blocking-factor’nya tebal, merasa kita tidak memiliki potensi itu, sehingga kita mudah mengambil konklusi untuk : tidak bisa, dan tantangan yang menghadang ini sudah di luar kemampuan kita. Dalam konsep pilihan fight or flight, kita jadi cenderung terlalu hati-hati, bermain aman, dan tidak mau fight, sedikit-sedikit memilih flight alias minggat, mengucap sayonara pada medan laga.

Musuh terbesar potensi dalam diri adalah zona nyaman, ketika kita hanya berkutat dan bergelut dengan hal-hal yang sudah kita kenali, dan kita yakin cara penanganannya, kita menjadi manja pada diri kita, malas memberikan tantangan-tantangan untuk sesuatu yang berbeda dan berkembang. Dampaknya, semakin terkuburlah potensi kita, mati sebagai potensi belaka, tanpa pernah terwujud dalam sebuah realita efek ‘aha’, ternyata saya bisa! Ternyata berhasil, ternyata mampu saya lakukan! Efek aha yang sejenis seperti saat Brock terengah-engah di ujung lapangan usai menuntaskan tantangan “The Death Crawl”, lelah namun lega, terengah namun gagah.

Saatnya menantang diri kita, melakukan hal-hal yang menggelitik adrenalin dalam diri kita, yang membuat diri kita berdiskusi secara internal dengan memunculkan pertanyaan : ‘bisa nggak ya, bagaimana caranya?”, biarkan sel otak bekerja menjalankan fungsinya, beri kesempatan otot menegang membuktikan kekuatannya, dan berilah ruang dan waktu pada potensi-potensi terbesar dalam diri anda muncul, untuk sekaligus dalam satu waktu mengagetkan, membuktikan, dan meningkatkan diri anda menjadi pribadi dengan kualitas yang lebih baik. Bencana terbesar bagi seseorang bukanlah ketika membutuhkan sesuatu namun tidak mendapatkannya. Bencana terbesar justru terjadi ketika seseorang tidak mampu memanfaatkan dan mendayagunakan apa yang sudah ada dalam dirinya.

“You are more than you think, if you do more than what you’ve done!”

Faizal SurpluS MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Komunikasi Yang Memotivasi : Sabar Yang Elegan

Standard

“Jadi orang itu yang sabar…”

“Orang sabar disayang Tuhan..”

Sering dengar pastinya, betapa sebuah kesabaran itu adalah suatu sikap yang mulia, orang yang sabar dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang yang tidak sabar. Meskipun persepsi yang berkembang saat ini, dengan tekanan hidup yang tinggi, budaya perkotaan dan modernitas yang memicu persaingan keras, sabar dianggap barang langka, bahkan mungkin jika sabar adalah sejenis spesies, maka termasuk spesies endemik yang statusnya sudah di ambang kepunahan.

“Sabar ya ada batasnya!”

Ini yang menarik, kita sering mendengar statemen tersebut, yang sebenarnya jika ditelaah lebih lanjut, justru ambigu, karena ternyata, sabar itu tidak ada batasnya. Lho, kalau begitu, kalau ada batasnya apa dong? Kalau masih berbatas, maka termasuk tidak sabar, simpel khan?

Sabar sendiri prakteknya multipersepsi, karena sebagai sebuah realitas, sabar dipersepsi dalam bentuk yang berbeda-beda. Saya memilih mempersepsi sabar dalam perspektif yang non-konvensional. Saya tidak setuju kalau sabar diidentikkan dengan ngalah, nrimo(jawa), atau diam dan pasif tanpa upaya. Saya sendiri mempersepsi sabar sebagai sebuah upaya aktif, lebih tepatnya persitensi. Sabar bukanlah imaji seperti tokoh protagonis dalam kisah-kisah azab Ilahi, yang alim namun penuh derita, yang berperangai halus namun hidupnya menerus didera nestapa. Sabar itu seperti Tom Hanks dalam Cast Away, seperti Will Smith dalam Pursuit of Happyness, seperti Bruce Willis dalam Die Hard, atau Keanu Reeves dalam Speed. Sabar itu aktif, sabar itu agresif, sabar itu konsisten untuk tetap dan terus melakukan wala mengalami kendala atau belum mendapat hasil. Sabar perlu dimaknai dalam bingkai yang berbeda. Terus melakukan meski diremehkan, terus berjuang meski dicaci, terus berikhtiar meski dihina, dipersulit, atau dizalimi dengan berbagai cara.

Sabar bukanlah kelemahan dan kondisi menyerah tanpa upaya, jadilah pribadi yang sabar dengan elegan, sabar yang layak mendapat apresiasi dan acungan jempol, sabar yang memunculkan rasa salut dan respek. Sukses bukan lagi sebuah kemungkinan, namun sudah menjadi kepastian, tinggal menunggu waktu, terus lakukan, jangan lupa dengan sabar.

Faizal SurpluS MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Komunikasi Yang Memotivasi : Ragu-Ragu, Lebih Baik Kembali

Standard

Saat memasuki kawasan militer, ada banyak jargon yang biasanya dipajang-dicantumkan. Saya pun menemui hal serupa saat diberi kepercayaan melatih karyawan dari salah satu perusahaan migas plat merah dalam diklat yang diselenggarakan di Kota Malang. Setelah melapor di Pos Jaga, seketika bangunan berdinding hijau menyambut, dengan sebuah tulisan yang khas : Disiplin itu Indah, bersanding dengan tulisan lain yang terbaca jelas : Ragu-Ragu, Lebih Baik Kembali! Sungguh kalimat singkat yang senantiasa saya kenang. Sederhana dan mengena, pendek dan berefek, ringkas dan jelas.

Ragu-ragu, lebih baik kembali! Karena keraguan pangkal ketidakjelasan. Bayangkan kita sedang menonton sebuah pertandingan sepak bola, big-match, babak final, mempertemukan dua tim yang sama-sama handal dan berambisi meraih piala, menjadi tidak seru dan berkurang kenikmatan menontonnya jika pertandingan dipimpin wasit yang tidak tegas, serba ragu-ragu. Itu baru pertandingan sepakbola, apalagi kehidupan. Saya sendiri dilahirkan di sebuah kondisi yang tegas, tanpa kompromi! Orang tua memang tidak berlatar belakang militer, yang notabene memang dikondisikan dalam mode ketegasan, namun kehidupan orang tua yang keras di jalanan, tidak memberi ruang untuk sebuah keraguan. Pesan dari orang tua, keraguan pangkal penundaan, dan penundaan adalah bibit kegagalan. Berani, ambil tindakan, resiko pasti ada dan itu biasa, mengingat, di dunia ini, apa ada suatu tindakan yang tidak beresiko sama sekali? Kita keluar rumah berkendaraan saja sudah disambut oleh berbagai resiko, jangankan keluar rumah, ngendon di kamar, tidur saja kalau salah posisi bisa beresiko leher terkilir.

Ketika pergaulan berkembang, interaksi dengan banyak orang dijalin, ilmu baru saya petik dari mentor saya, yang memberikan motivasi melalui kalimat :

“Lebih baik salah karena bertindak, daripada tidak pernah salah karena tidak pernah melakukan apapun.”

Mencerahkan dan memotivasi, karena benar begitulah adanya, apa ada orang yang di dalam hidupnya tidak pernah salah sama sekali? Mustahil! Ada sebuah analogi sederhana tentang keraguan, bahwasanya orang yang nekat bisa selamat, yang hati-hati bisa selamat, namun yang ragu-ragu pasti tamat, tidak percaya? Coba bayangkan kita berada di perlintasan kereta api tanpa palang pintu, yang nekat bisa selamat, lari atau tancap gas sekencang-kencangnya, selama momentumnya tidak benar-benar pas, maka peluang lolos dan selamat masih terbuka. Yang hati-hati bisa selamat, tunggu, sabar, biar kereta lewat dulu, maka selamat. Yang jelas tamat adalah yang ragu-ragu, karena antara lewat atau tidak, bahkan mungkin di tengah-tengah rel malah berhenti, tamatlah sudah.

Ragu-ragu, lebih baik kembali! Tidak ada ruang untuk keraguan! Solusinya bagaimana? Lawan keraguan dengan keyakinan. Sebuah keyakinan yang kuat menutup celah untuk masuknya keraguan, jangan diberi kesempatan. Keyakinan itu bulat, tanpa kebimbangan sedikitpun. Keyakinan berbeda jauh dengan kemungkinan, keyakinan itu pasti, seyakin kita pada anak kecil yang belajar berjalan, pasti bisa berjalan, tak ada keraguan, meski jatuh, tidak seimbang, perlu berupaya keras dan berulang-ulang, sang anak dan kita tidak ragu sama sekali, pasti bisa, pasti berhasil, tinggal menunggu waktu, itulah keyakinan.

Salam SurpluS
———————-

Ditulis dari lereng Gunung Wilis
Kaki Air Terjun Sedudo

Faizal SurpluS MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Komunikasi Yang Memotivasi : Interpretasi Esensi

Standard

Mari memutar memori dan mengingat kejadian yang pernah kita alami. Pernah dimarahi? Pernah dibentak? Pernah didamprat habis-habisan? Bagaimana rasanya? Manis, asem, asin-kah? Bagaimana suasana hati kita? Grogi? Galau? Atau gugup luar biasa?

Anda rasakan begitu? Saya juga sama, bahkan mungkin lebih campur aduk rasa di hati dan di dada, itu lumrah dan merupakan suatu hal yang biasa. Dongkol pastinya, apalagi kalau dalam hati kecil kita ada naluri penolakan, ada teriakan kencang yang tak terucap bahwa sebenarnya bukan kita yang salah, atau walaupun kita memang salah, level kesalahannya juga tidak gitu-gitu amat, tidak parah-parah banget, ndak usah sampai ngotot gitu juga kali marahnya.

Persis, itu yang saya rasakan, mungkin banyak orang juga yang punya perasaan yang identik, ditegur, dikoreksi, diamuk, dimarahi, dengan nada tinggi ala rocker plus bonus intonasi yang bikin suasana jadi angker. Ngeri sampai bergidik seluruh tubuh.

Simak yang tercantum dalam setiap baris tulisan, mayoritas bahkan semua poin di atas membahas mengenai kemasan, bungkus dari penyampaian, tapi lupa bahkan tidak menyinggung sama sekali dengan esensinya, maksudnya apa, isinya apa? Dimarahi karena kesalahan apa? Titik kesalahannya dimana? Ini mis-directionnya! Saya pun juga mengalami gejala yang sama, semoga ini bisa menjadi inspirasi agar kita dapat merespon dengan lebih bijak saat menemui situasi yang serupa.

Fokus pada esensi! Itu pelajaran mahal yang saya petik! Berlian, meskipun keluar dari mulut anjing sekalipun, tetaplah esensinya adalah berlian! Tidak berkurang sedikitpun nilai esensinya. Saya harus berterimakasih pada mentor saya yang saya ingat betul kalimat motivasinya :

“Saya ngomong begini, untuk kebaikanmu sendiri, kamu berubah lebih baik saya tidak tambah kaya, kamu terpuruk lebih buruk saya tidak jadi melarat.”

Itu kalimat singkat dengan makna yang sangat mendalam, kombinasi antara kepedulian, keikhlasan, dan fokus pada esensi penyampaian, selama yang disampaikan benar dan dalam rangka saling mengingatkan dalam kebaikan, sampaikan saja, ucapkan saja, mau orang jadi terinspirasi atau malah sakit hati, biarlah menjadi efek samping dan dampak semata. Ini yang saya hayati kemudian, untuk menjadi tahan dan kuat mental menghadapi tekanan dalam bentuk intimidasi nada tinggi. Saya tidak lagi pedulikan nada-nya, tapi saya tangkap dan simak liriknya. Nada boleh enak boleh fals, tapi selama isi liriknya bagus dan bermakna, saya simak dengan seksama, saya catat dengan semangat jika diperlukan.

Dengan sikap mental tersebut, jangan kaget kalau kemudian kita bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih dewasa, matang dalam pemikiran, bijak dalam pengambilan keputusan, dan selalu meningkat dalam pengetahuan, dampaknya tentu kenaikan signifikan dalam level pencapaian, karena kita tidak lagi terkecoh oleh intonasi, namun fokus untuk melakukan interpretasi atas esensi.

Salam SurpluS!
———————–

Ditulis di Kota Jombang Beriman

Faizal SurpluS MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS

Komunikasi Yang Memotivasi : Apresiasi Berefek Anestesi

Standard

Saya memiliki pengalaman yang menarik, di sebuah lingkungan yang tegas, kalau tidak boleh dibilang keras. There are no room for errors, setiap proses seperti sebuah pilihan berlengan dua, memandu menuju kejayaan atau menuntun menuju kehinaan. Awalnya tentu ada perasaan kaget dan pastinya membutuhkan proses adaptasi yang tidak sebentar. Disinilah sebuah tempaan dirasakan dan dinikmati, jika di dalam kita dilatih dengan program yang lembek, maka di luar kita akan jadi pribadi yang kerdil dan pengecut, namun sebaliknya, jika di dalam kita digembleng dengan proses yang ketat, maka di luar kita tampil sebagai pribadi yang disiplin dan berprinsip kuat.

Apa yang kita harapkan saat meraih suatu hasil atau prestasi? Lumrahnya tentu saja penghargaan, pujian atas prestasi, atau lazim kita sebut dengan apresiasi? Bagaimana jika kita tidak mendapatkannya? Kecewa? Dongkol? Sedih? Kesal? Situasi itulah yang pernah saya alami, seakan setiap prestasi tidak berarti, seolah setiap hasil itu adalah berkat bantuan dan kebetulan belaka. Rasanya semakin menyesakkan saat yang dibahas dan dibicarakan adalah berbagai kekurangan, koreksi, evaluasi, tentunya lengkap dengan nada tinggi dan permainan kata-kata yang tajam dalam balutan ekspresi.

Jengah dan lelah rasanya, seperti sudah habis semua upaya dan ludes semua harapan, hingga ada satu titik saya mengingat kalimat motivasi yang saya sendiri sangat hapal, namun kurang sungguh-sungguh menerapkan, bunyinya :

“You are more than you think”

Mungkin ini jawabannya, ini adalah situasi praktek sebenarnya bahwa kita sebenarnya lebih dari yang kita pikirkan, kita lebih dari yang sudah kita capai selama ini, lebih dari yang kita dapatkan, lebih dari hasil yang kita raih. Kita perlu alarm, kita perlu pengingat, kita perlu pengejut, agar kita tidak terlena, bermalasan dalam perangkap zona nyaman. Saya seperti dibangunkan, digugah secara jiwa, bahwa ini bukanlah situasi yang buruk, ini bukanlah siksaan dan kesengsaraan, bahwa keadaan yang tegas dan keras ini adalah keadaan yang ideal dalam menempa diri meraih kesuksesan.

Seketika cara pandang saya berubah, dari kondisi penyesalan menjadi limpahan syukur yang tulus, betapa saya beruntung mendapat kesempatan dan keadaan yang tidak diperoleh bahkan mungkin hanya diimpikan oleh sebagian besar orang. Keadaan tidak standar yang sangat memajukan, karena faktanya orang-orang sukses bukanlah para pribadi standar dan tidak dibentuk oleh sebuah perlakuan standar.

Saya pun ingat salah satu banner yang terpasang di dinding salah satu lembaga pendidikan besar di Indonesia milik kawan akrab saya yang dengan bangga memajang tulisan :

“You are good, but make it better!”

Wuaah, saya seperti dilahirkan kembali, dari sekarat berbalik menjadi super semangat, siap menaklukkan setiap tantangan, siap membuktikan pencapaian dari setiap keraguan. Apresiasi memang penting, namun koreksi jauh lebih memajukan, dengan pemahaman ini, kita tidak mengidap gejala gila pujian atau haus sanjungan, kita senantiasa menjadi pribadi yang bertambah dan bertumbuh, dengan terus belajar, berlatih, dan melakukan berbagai sesuatu tidak hanya dalam standar bagus (good), namun dalam grafik naik (better).

Simpan apresiasi sebagai sebuah sistem pribadi, jangan biarkan melenakan kita dari tujuan. Apresiasi hanyalah atribut, bonus dari pencapaian, jangan biarkan keinginan diapresiasi membelokkan dari nilai sebuah pencapaian. Jangan biarkan apresiasi jadi anestesi yang membius dan membuat kita hilang kesadaran. Kita perlu kesadaran penuh, untuk tetap fokus dan konsisten pada komitmen pencapaian berbasis peningkatan.

Salam SurpluS!
———————–

Ditulis dari
Nganjuk Kota Angin

Faizal SurpluS MBA
Motivator
Tinggal di Kota Malang
@FaizalSurpluS